Malam
itu, aku masih ingat dengan jelas bagaimana kejadiannya. Malam jum’at, ini
bukan cerita horror yang dipenuhi dengan hantu-hantu narsis, ini kisahku
sendiri. Kalau tidak suka, atau tidak tertarik sebaiknya anda abaikan saja atau
berhentilah membacanya karena itu akan membuang-buang waktu anda. Baiklah bagi
anda yang masih ingin membaca, aku akan meneruskannya.
Ketika itu jalan menuju
kos sangat gelap, aku pulang dari kampus sekitar pukul 22.00, sangking gelapnya
aku harus menyalakan senter yang ada di hpku. Yah, meski tidak seterang senter
sungguhan setidaknya cukup untuk menerangi jalanku, daripada aku harus jatuh
karena tersandung batu yang tidak bisa aku lihat. Aku akhirnya sampai di kosan,
kubuka pintunya karena waktu itu belum ada yang menguncinya dari dalam,
syukurlah aku masih bisa masuk tanpa harus menggegerkan penghuni kos yang lain.
Aku mulai menaiki tangga menuju lantai dua karena kamarku terletak di sana, di
ujung samping kamar mandi tepatnya. Teman sekamarku kebetulan pulang kampung
dan aku harus tidur sendirian. Aku bersihakan dulu kamarku itu sebelum aku
tertidur di kasur yang empuk meski agak tidak nyaman bagiku, terlalu sempit.
Lorong kamar-kamar begitu sepi, tak ada pertanda suara kehidupan yang mampu
menghiburku. Aku menyapu lantai kamarku dan menuju kamar mandi untuk
membuangnya. Tempat sampah terletak di depan kamar mandi, aku membuang kotoran
dari kamarku di sana. Awalnya aku merasa biasa saja, seolah memang tidak ada
apa-apa. Aku mencuci muka, tangan dan kakiku lalu kembali menuju kamarku untuk tidur. Ketika aku memejamkan
mata dan mencoba untuk terlelap, aku tidak bisa. Ada yang aneh dengan perutku,
aku merasa tidak nyaman dengan perutku yang ada di dalamnya, entah mengapa
sepertinya ada yang meraung-raung di dalam sana dan aku tidak bisa mencerna
raungan itu. aku bangun dari tidurku untuk merenung, apa yang terjadi denganku?
kenapa seperti ini? Apa aku sedang sakit? Tapi rasanya tidak sakit, aku justru
merasakan perih kepanas-panasan. Biasanya, dengan kondisi seperti ini aku harus
memakan sesuatu untuk menghilangkan rasa perih itu. Aku meraih tas tempat
makananku kusimpan, aku mencari mie instant tapi tak kutemukan di sana.
Ternyata mie instantku sudah habis tiga hari yang lalu. Malam-malam begini aku
harus mencari makanan kemana? Tidak akan ada yang buka kecuali angkringan yang
menjual nasi kucing dan aku tidak akan baikan dengan makan makanan itu meski
dua bungkus. Kuputuskan untuk menjadikan nasi yang ada di penanak nasi menjadi
nasi goreng. Aku membawa semua bahan yang diperlukan untuk memasak, lalu
menuruni tangga karena dapur terletak di bawah paling ujung. Aku melihat ada
potongan tempe di atas kompor. Siapa malam-malam begini mau masak tempe?
Pikirku sambal menata bahan-bahan dan barang yang akan kugunakan memasak. Aku
meracik bumbu-bumbu yang kuperlukan. Tiba-tiba seseorang keluar dari salah satu
kamar yang paling dekat dengan kompor. Kurasa ia yang akan memasak tempe itu.
Aku menanyainya.
“Mau
masak pake dua kompor mba?” karena di sana kompornya ada dua, dan kupikir dialah
yang pantas memasak dulu dari pada aku yang baru menata bahan-bahan.
“Engga
kok” jawabnya, aku melanjutkan memasakku tanpa menghiraukannya.
Kulihat
dia seperti kebingungan, tapi aku tak tahu dia bingung kenapa, toh kompor yang
satunya juga nggak ada yang memakai. Aku lanjut memasak saja karena perutku
perihnya menjadi-jadi. Ia memperlihatkan wajah kesal dengan menggumam “terpaksa
antri”. Aku yang mendengar itu bingung, tadi kutanya jawabannya begitu, tapi
malah menggumam. Aku mengabaikannya saja. Ada yang tidak beres. Setelah
masakanku jadi, aku langsung menuju kamarku lagi untuk mengobati perutku. Aku
pun kenyang dan akhirnya bisa tidur dengan nyenyak. Sekian ceritaku yang tidak
bermutu, kalau kalian menyesal telah membaca kisah ini, aku selaku penulis
memohon maaf yang sebesa-besarnya. Aku hanya sedang ingin menulis tapi tidak
memiliki ide apapun untuk ditulis, ya jadinya beginilah. Tidak penting sekali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar